Direktur PTKI Kunjungi Kampus STAIKAP Pekalongan, Diskusi Soal Pengembangan Kampus PTKIS

- Minggu, 2 Januari 2022 | 16:02 WIB
Ketua Yayasan YMI Wonopringgo Pekalongan Mutammam MEd, didampingi Ketua STAIKAP Pekalongan Arif Dwi Iskandar MHum, menyerahkan plakat kepada Prof Dr Suyitno MAg, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Dirjen Pendis Kemenag RI bersama HM Adib Abdushomad MEd PhD Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Diktis, dalam kunjungannya di STAIKAP Pekalongan, Kamis 30 Desember 2021/foto/Kuswandi
Ketua Yayasan YMI Wonopringgo Pekalongan Mutammam MEd, didampingi Ketua STAIKAP Pekalongan Arif Dwi Iskandar MHum, menyerahkan plakat kepada Prof Dr Suyitno MAg, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Dirjen Pendis Kemenag RI bersama HM Adib Abdushomad MEd PhD Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Diktis, dalam kunjungannya di STAIKAP Pekalongan, Kamis 30 Desember 2021/foto/Kuswandi

 

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Ditengah ketatnya persaiangan perguruan tinggi, Sekolah Tinggi Agama Islam Ki Ageng Pekalongan (STAIKAP), sebagai satu-satunya perguruan tinggi keagamaan Islam swasta (PTKIS) di Pekalongan, diminta harus mampu menangkap peluang dari setiap kebijakan.

Itu dilakukan, agar eksistensinya dapat terus diakui oleh masyarakat. Hal dapat dilakukan dengan mengoptimalkan potensi yang ada perguruan tinggi setempat.

Demikian disampaikan Prof Dr Suyitno MAg, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Dirjen Pendis Kemenag RI, dalam kunjunganya ke kampus STAIKAP Pekalongan di Jalan Simpang Tiga, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Kamis 30 Desember 2021.

"PTKIS harus berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan PTKIN. Misalnya, sekarang ada beasiswa prestasi, maupun beasiswa akademik dan non akademik lainnya. Tidak ada alasan untuk tidak dapat mendapatkan akses tersebut. Dan STAIKAP Pekalongan terus maju dan berkembang, semoga dapat terus tumbuh," kata Prof Dr Sutikno.

Baca Juga: Angka Kriminalitas di Kabupaten Tegal Turun 27 Persen, Kecelakaan Lalu Lintas Naik 20 Persen

Dalam kunjungannya ke Pekalongan, guru besar itu didampingi HM Adib Abdushomad MEd PhD, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Diktis, yang kebetulan asli Pekalongan. Pihaknya menambahkan, Pekalongan selama ini dikenal sebagai kota batik dan santri. Oleh sebab itu, sebagai kota santri, sudah sepatutnya harus diiringi dengan meningkatnya kapasitas perguruan tinggi. Apalagi, di Pekalongan ada sosok ulama besar Romo KH Taufiq dan Habib Luthfi bin Yahya.

"Tentu dengan ketokohan kedua ulama itu, dapat dijadikan wasilah bagi STAIKAP Pekalongan untuk dapat lebih maju dan berkembang. Apalagi, kebetulan Kasubditnya orang Pekalongan. Masak ngurus yang lain bisa, ngurus daerah kelahirannya kok tidak bisa?," kelakar Prof Suyitno, penuh canda disambut tawa peserta yang hadir.

 Sementara, HM Adib Abdushomad menambahkan, selain kota batik dan santri, Pekalongan harus mampu ambil peran dalam mengembangkan destinasi kota pendidikan. Oleh sebab itu, STAIKAP Pekalongan harus mampu bekerja cepat, responsif dalam menangkap setiap peluang yang ada.

Baca Juga: Tingkatkan Pengawasan Orang Asing, Kantor Imigrasi Kerjasama dengan Pemerintah Daerah

Halaman:

Editor: Agus Setiawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PPDB Sistem Zonasi Akan Digugat ke Pengadilan

Senin, 27 Juni 2022 | 22:00 WIB

Fosil Purba Koleksi Museum Buton Dikonservasi

Senin, 30 Mei 2022 | 12:15 WIB

151 Siswa MAN 2 Brebes Diterima PTN Tanpa Tes

Kamis, 19 Mei 2022 | 18:25 WIB

Dirjen PAUD Resmikan Sekolah Kardinah

Kamis, 12 Mei 2022 | 15:33 WIB

509 Kepala Sekolah Dilantik Bupati Brebes

Kamis, 14 April 2022 | 17:27 WIB
X