Melihat Kawasan Pecinan Tegal, Berdiri Sejak Abad ke-18

- Sabtu, 21 Januari 2023 | 16:31 WIB
Masyarakat keturunan Tionghoa di Jalan Udang, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, masih mempertahankan atap pelana kuda berbentuk segi empat yang menyimbolkan keabadian. (Haikal Adithya )
Masyarakat keturunan Tionghoa di Jalan Udang, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, masih mempertahankan atap pelana kuda berbentuk segi empat yang menyimbolkan keabadian. (Haikal Adithya )

TEGAL, suaramerdeka-pantura.com - Keberadaan Pecinan Tegal, telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Terbentuknya kawasan ini, berkaitan erat dengan peristiwa Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Di mana pada saat itu, Tegal diketahui masih di bawah pemerintahan Kerajaan Mataram.

Terjadinya perang saudara, menyebabkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yakni Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Jauhnya wilayah Tegal dari Kerajaan Mataram, menyebabkan Tegal akhirnya jatuh ke tangan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

VOC di tanah Tegal, kemudian membentuk Sistem Opsir Tionghoa yang dipimpin oleh seorang kapitein. Pada masanya, masyarakat Tionghoa Tegal dipimpin Kapitein der Chinezen, sedangkan di wilayah Slawi dan Adiwerna, Kabupaten Tegal, dipimpin Luitenant der Chinezen.

Baca Juga: 482 RTLH di Kota Pekalongan Selesai Dipugar Selama 2022

Salah satu tugas Opsir Tionghoa adalah mengurus hak-hak sipil masyarakat Tionghoa, seperti peribadahan. Seperti diketahui, peribadahan tidak lepas dari kelenteng, karena pada saat itu hampir sebagian besar masyarakat Tionghoa menganut kepercayaan Konghucu.

Di saat Sistem Opsir Tionghoa dilaksanakan, Ketua Kelenteng merupakan para opsir itu sendiri beserta bawahannya. Setelah sistem tersebut dihilangkan, barulah dibentuk suatu badan kepengurusan.

Pada tahun 1903, Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal, resmi memiliki badan hukum. Itu setelah salah satu pengurus kelenteng bernama Liem Djim Tek, mengajukan rechtspersoon ke Pemerintahan Belanda. Bahkan, sejak 1903 hingga 2023 ini daftar nama kepengurusannya masih tercatat lengkap.

Seperti diketahui, kelenteng didirkan di tengah-tengah pecinan, sehingga memudahkan masyarakat Tionghoa untuk beribadah.

Kelenteng Tek Hay Kiong adalah bangunan yang didedikasikan untuk menghormati seorang tokoh bernama Kwee Lak Kwa, yang pernah tinggal dan menolong orang di sepanjang Pantai Utara (Pantura). Dia juga dipercaya telah mencapai moksa, mencapai tingkat kedewaan lautan Tegal dan mendapat gelar kedewaan Tek Hay Cin Jin.

Rohaniawan Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal, Chen Li Wei Dao Chang mengatakan, kelenteng dibangun oleh Kapitein der Chinezen pertama di Tegal yang bernama Kapitein Souw Pek Gwan sekitar tahun 1760.

Namun, seiring berjalannya waktu, kelenteng yang saat itu diberi nama Kelenteng Cin Jin Bio, mengalami kerusakan di berbagai sudut.

Baca Juga: Jelang Imlek, Anggota Kodim Pekalongan dan Polres Bersihkan Kelenteng

Kemudian, oleh tokoh masyarakat Tionghoa Tegal bernama Kapitein Tan Koen Hway, kelenteng dirombak secara total dengan mendatangkan ahli bangunan dari Tiongkok pada tahun 1837.

Pada saat itu juga, Kapitein Tan Koen Hway, menyumbangkan meja sembahyang yang saat ini masih dipergunakan. Termasuk papan nama Tak Hay Cin Jin dan papan syair pujian untuk Kongco Tek Hay Cin Jin.

Halaman:

Editor: Siwi Nurbiajanti

Tags

Terkini

Layanan Pembuatan Kartu AK 1 Semakin Mudah dan Cepat

Sabtu, 28 Januari 2023 | 19:58 WIB

Warga Dukuh Tembara Iuran Membangun Jembatan

Rabu, 19 Oktober 2022 | 14:53 WIB

Polres Tegal Bagikan 350 Paket Sembako Kepada Nelayan

Rabu, 28 September 2022 | 08:14 WIB

Terekam CCTV, Pembobol Mesin ATM BRI Gunakan Linggis

Kamis, 15 September 2022 | 17:41 WIB
X