Mantan Karyawan PT Aquila Divonis Terbukti Bersalah, Kasus Invoice Fiktif di PLTU Batang

- Senin, 28 November 2022 | 17:58 WIB
BACAKAN AMAR PUTUSAN : Majelis hakim PN Pekalongan, membacakan amar putusan dalam kasus invoice fiktif di PLTU Batang dengan terdakwa, Rosi Yunita, Senin 28 November 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)
BACAKAN AMAR PUTUSAN : Majelis hakim PN Pekalongan, membacakan amar putusan dalam kasus invoice fiktif di PLTU Batang dengan terdakwa, Rosi Yunita, Senin 28 November 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Mantan karyawan PT Aquila Transindo Utama (ATU), Rosi Yunita, dalam sidang dengan agenda pembacaaan amar putusan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, terkait kasus invoice fiktif divonis terbukti bersalah oleh majelis hakim, Senin 28 November 2022. Terdakwa merupakan mantan staff PT Aquila Transindo Utama, sebagai Badan Usaha Pelabuhan khusus PLTU Batang.

Rosi sendiri diganjar hukuman sembilan bulan kurungan penjara. Terdakwa dinilai terbukti secara sah melanggar pidana, membuat invoice fiktif pada PT Sparta Putra Adhyaksa (SPA).Atas vonis dimaksud, terdakwa Rosi yang mengikuti sidang secara online itu menyatakan pikir-pikir. Vonis sendiri lebih ringan, dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pekalongan sebelumnya 1,6 tahun kurungan penjara.

Baca Juga: Dugaan Kasus Invoice Fiktif, Bos PT Aquila dan Rekan Kerja Terdakwa Dihadirkan Sebagai Saksi

Ketua Majelis Hakim Mukhtari menyatakan terdakwa Rosi Yunita terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana menggunakan surat palsu atau yang akan dipalsukan sebagaimana dalam dakwaan.

"Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 9 bulan kurungan penjara. Dan, menetapkan terdakwa tetap ditahan," kata Mukhtari, sembari mengetuk palu, didampingi Budi Setyawan dan Hilarius Grahita, masing-masing selaku hakim anggota.

Rosi sendiri dijerat dengan pasal 263 KUHPidana ayat 2. Dimana, barang siapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian.

Baca Juga: Terus Menangis, Terdakwa Dugaan Invoice Fiktif Pelabuhan PLTU Batang Mengaku Hanya Diperintah Atasan

Terdakwa merupakan operator radio PT Aquila Transindo Utama (ATU) yang bertugas memandu kapal yang akan bersandar. PT Aquila merupakan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang mengelola Pelabuhan Khusus PLTU Batang. Dalam putusannya, hal-hal yang memperberat perbuatan terdakwa Rosi antara lain, akibat perbuatannya merugikan orang lain dan meresahkan masyarakat pelabuhan.

"Hal yang meringankan, terdakwa belum pernah melanggar hukum, dan perbuatan terdakwa bukan untuk kepentingan sendiri," imbuhnya. Dalam putusannya, terdakwa juga diwajibkan membayar biaya perkara Rp 5 ribu.

Baca Juga: Sidang Dugaan Invoice Fiktif, Terungkap Fakta-Fakta Baru. Saksi : Tak Pernah Menerima SPK dan Invoice

Majelis hakim menyebut perbuatan terdakwa membuat tagihan palsu, seolah olah ada pelayanan pandu jasa dari PT Aquila Transindo Utama. Hingga menimbulkan kerugian pada PT Sparta Putra Adhyaksa hingga Rp 121 juta.

Atas vonis tersebut, Rosi Yunita memilih untuk pikir-pikir. "Saya pikir-pikir dulu yang mulia," tutur Rosi, sembari menangis sesungukan. Majelis hakim memberi waktu pihak terdakwa selama tujuh hari untuk memutuskan apakah menerima putusan atau banding.

Sebelumnya, pada pledoi, Penasihat Hukum terdakwa Rosi Yunita, Suparno menyatakan bahwa klien-nya hanya seorang staff. Tidak mungkin klien-nya bekerja sendiri tanpa adanya perintah. Ia menyebut bahwa proses keluarnya invoice atau tagihan pelayanan jasa pandu melibatkan banyak pihak. Tidak hanya dilakukan seorang diri oleh klien-nya

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Anggota DPRD Kota Pekalongan Ditangkap BNN

Kamis, 2 Februari 2023 | 17:23 WIB
X