Ibarat Emas Hitam, Sampah Punya Nilai Ekonomi Tinggi

- Minggu, 13 November 2022 | 11:35 WIB
FGD PENGELOLAAN SAMPAH: Focus Group Discussion (FGD) kegiatan Pengabdian Masyarakat Berbasis Pemberdayaan (PMBP) bertema '' Model Pengelolaan Sampah di Kelurahan Noyontaansari''  digelar di Kelurahan Noyontaansari, Sabtu (12/11).  (Trisno Suhito)
FGD PENGELOLAAN SAMPAH: Focus Group Discussion (FGD) kegiatan Pengabdian Masyarakat Berbasis Pemberdayaan (PMBP) bertema '' Model Pengelolaan Sampah di Kelurahan Noyontaansari'' digelar di Kelurahan Noyontaansari, Sabtu (12/11). (Trisno Suhito)

PEKALONGAN,suaramerdeka-pantura.com- Sampah selama ini dinilai sebagai sumber masalah di tengah masyarakat. Padahal sampah memiliki potensi sangat besar untuk dimanfaatkan dan bernilai ekonomi jika mau dikelola secara serius.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) kegiatan Pengabdian Masyarakat Berbasis Pemberdayaan (PMBP) bertema '' Model Pengelolaan Sampah di Kelurahan Noyontaansari'' yang digelar Bappeda Kota Pekalongan di Kelurahan Noyontaansari, Kecamatan Pekalongan Timur, Sabtu (12/11).

FGD yang dipandu wartawan Suara Merdeka Trisno Suhito ini dihadiri oleh Kepala Bappeda Kota Pekalongan Cayekti Wididgo, Kabid Litbang Bappeda Sevina Mahardini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan Joko Purnomo, Suryo Pratikwo dari Poltekkes Semarang, Choliq Sabana dari Universitas Pekalongan (Unikal) dan Ketua Umum Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) Sodiqin.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan Joko Purnomo mengatakan, sampah sebenarnya bernilai ekonomi tinggi, bahkan bisa dikatakan seperti emas.

'' Sampah itu ibaratnya adalah emas hitam. Tapi belum banyak yang tertarik mengelolanya. Padahal kalau dikelola dengan baik akan bisa menghasilkan uang dan menjadi pengungkit ekonomi di tengah masyarakat,'' ujarnya.

Joko mengatakan, sudah ada cukup banyak contoh yang menggambarkan bagaimana sampah bisa bernilai ekonomi. Jadi, sampah bukan sekedar barang sisa yang harus dibuang atau dimusuhi. Kalau tahu cara mengelolanya maka akan bisa menjadi sumber penghasilan.

Menurut dia, sampah ada dua jenis yaitu organik dan non organik. Selama ini masyarakat terbiasa membuang dua jenis sampah ini secara bersama sama, tanpa dipisah. Padahal seharusnya sampah jenis ini dipilah terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA). Akan sangat berbahaya, kata dia, jika sampah anorganik masuk ke dalam tanah sebab plastik tidak bisa terurai selama ribuan tahun.

'' Masyarakat harus paham model pengelolaan sampah yang baik. Sejak dari rumah, masyarakat harus memilah mana organik dan anorganik. Pengelolaan sampah berbasis ekonomi itu bisa kita lakukan kalau kita mempunyai kesadaran menangani sampah dan punya komitmen sungguh sungguh,'' katanya.

Sementara itu Kepala Bappeda Kota Pekalongan Cayekti Widigdo mengatakan, penanganan sampah menjadi persoalan serius yang menjadi perhatian Pemkot Pekalongan. Produksi sampah di Kota Pekalongan saat ini mencapai 129 ton per hari. Padahal kemampuan untuk bisa mengelolanya sekitar 86 %. Itu berarti ada 14 % yang tidak terkelola.

'' Itu yang terbuang ke sungai dan saluran saluran air. Tidak heran sungai di Pekalongan itu kotor dan saluran juga tersumbat,'' katanya.

Dirinya mengharapkan Kelurahan Noyontaansari bisa menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah dengan benar, sekaligus bisa bernilai ekonomi bagi warganya. Jika ini bisa berjalan dengan baik, maka diharapkan bisa direplikasi di kelurahan lain. Bapeda, lanjut Cayekti, punya program PMBP bekerjasama dengan perguruan tinggi. Program ini diterapkan selama tiga tahun ke depan.

'' Hari ini launching. Awalannya sudah dilakukan beberapa hari lalu. Diawali sekarang ini. Kami berharap melalui PMBP, program pemberdayaan dalam hal pengelolaan sampah bisa terwujud. Kita ingin bagaimana sampah itu bisa dikelola dan bernilai ekonomi. Itu yang akan kita jalankan selama tiga tahun ke depan di Kelurahan Noyontaansari,'' katanya.

Ketua Umum Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) Sodikin mengatakan, mengelola sampah itu perlu niat dan kebersamaan. Jangan tiba tiba bicara anggaran, karena semuanya diawali niat dan juga kesadaran untuk bersinergi dengan berbagai elemen seperti pemerintah, swasta, komunitas dan masyarakat. Pria yang akrab dipanggil Kang Dikin ini juga memberikan catatan khusus, jika ingin mengatasi sampah maka harus bisa menimbulkan nilai manfaat bagi masyarakat.

'' Sebab apa? Sebab dalam kultur di masyarakat Indonesia, mereka akan bergerak kalau ada manfaat. Tapi manfaat itu tidak harus bernilai perorangan, bisa juga manfaat dalam konteks kelompok atau lebih luas seperti RT/RW, atau kelurahan. Kalau sudah bisa memunculkan nilai manfaat bagi masyarakat, maka jiwa gotong royong muncul. Seperti misalnya dalam pemanfaatan sampah bisa untuk pembuatan MCK umum, lapangan olahraga di tengah masyarakat atau lainnya,'' katanya.

Halaman:

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Anggota DPRD Kota Pekalongan Ditangkap BNN

Kamis, 2 Februari 2023 | 17:23 WIB
X