Terus Menangis, Terdakwa Dugaan Invoice Fiktif Pelabuhan PLTU Batang Mengaku Hanya Diperintah Atasan

- Jumat, 4 November 2022 | 17:09 WIB
TAK KUASA MENAHAN TANGIS : Terdakwa kasus pidana perkara dugaan invoice fiktif di Pelabuhan PLTU Batang, Rosi Yunita, tak kuasa menahan tangis, dalam sidang yang digelar oleh PN Pekalongan, Kamis 3 Oktober 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)
TAK KUASA MENAHAN TANGIS : Terdakwa kasus pidana perkara dugaan invoice fiktif di Pelabuhan PLTU Batang, Rosi Yunita, tak kuasa menahan tangis, dalam sidang yang digelar oleh PN Pekalongan, Kamis 3 Oktober 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Terdakwa kasus pidana perkara invoice fiktif di Pelabuhan PLTU Batang, Rosi Yunita, terus menangis dalam sidang saat di cecar pertanyaan oleh Jaksa Penuntut umum (JPU) dan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pekalongan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, Kamis 3 Oktober 2022.

Lantaran tidak bisa menjawab dengan jelas saat, sidang yang dipimpin Ketua Majelis hakim Mukhtari dengan hakim anggota Hilarius Grahita, Budi Setyawan, sempat menghentikan sejenak (skorsing-red) jalan sidang selama tiga puluh menit.

Baca Juga: Dugaan Kasus Invoice Fiktif, Bos PT Aquila dan Rekan Kerja Terdakwa Dihadirkan Sebagai Saksi

Tangisan terdakwa karena Rosi Yunita merasa dikorbankan oleh mantan atasannya di PT Aquila Transindo Utama (ATU). Dalam sidang, Rosi mengaku hanya disuruh. Ia pun akhirnya blak-blakan menyebut peran tiga saksi yang dalam sidang sebelumnya hadir.

Tiga nama yang disebut dalam persidangan adalah Kapten Pandu Agus Pujo Utomo, Supervisor Ahmad Zaenuri, dan Direktur PT Aquila Transindo Utama M Rondhi. "Saya hanya disuruh atas nama Agus Pudjo," kata Rosi sembari terisak menjawab pertanyaan majelis hakim.

Baca Juga: Sidang Dugaan Invoice Fiktif, Terungkap Fakta-Fakta Baru. Saksi : Tak Pernah Menerima SPK dan Invoice
Ia menyebut nama kapten pandu itu saat dicecar hakim serta jaksa penuntut umum (JPU) tentang permintaan blangko kosong yang ditandatangani beserta cap pada staf PT Sparta Putra Adhyaksa (SPA) melalui chat. Staf PT SPA yang dimintai adalah Syaiful Niko yang juga pernah hadir sebagai saksi.

Rosi juga mengungkapkan bahwa yang memerintah adalah Kapten Pandu Agus Pudjo. Setelah mendapatkan itu, ia serahkan pada Agus Pudjo. Kemudian, ia kembali disuruh membuat surat keterangan pandu sebagai dasar pembuatan pra nota. Pra nota itu sebagai dasar terbitnya invoice.

Baca Juga: Terdakwa Tolak Dakwaan JPU, Sidang Kasus Dugaan Invoice Fiktif Pelabuhan PLTU Batang

"Ngeprintnya di kantor. Printernya di meja Supervisor. Di situ bertiga. Saya, Agus Pujo, dan Pak Ahmad (supervisor). Tahu semua," tuturnya. Terkait penerbitan invoice jasa pandu dan tunda, hal itu merupakan kewenangan finance atau keuangan. Ia tidak tahu sama sekali.

Rosi juga mengatakan hanya mengerjakan perintah. Untuk jobdesk atau aturan kerja selama bekerja di PT ATU, ia mengaku sejak masuk kerja tidak pernah diberi tahu. Selama kerja, ia hanya bekerja sesuai perintah atasannya.

Hingga akhirnya ada laporan ke Polres Pekalongan Kota, Rosi merasa syok. Saat itu, ia mendapat tekanan dari pimpinannya agar tidak menyebut nama kapten Agus Pujo dan Ahmad Zaenuri.


"Saya dipaksa untuk bilang seperti itu, dipaksa pak Rondhi direktur. Sebelum BAP Pertama," tutur Rosi di depan majelis hakim. Bahka, jika keluar dari skenario itu, Rosi diancam akan dijebloskan sendiri, karena dianggap tidak mematuhi peraturan perusahaan.

"Waktu itu, Pak Rondhi bilang, ibarat sepak bola, kamu (Rosi) yang didalam, biar saya yang diluar," tutur Rosi, menirukan pesan yang disampaikan oleh Rondhi kepada dirinya. Ia bahkan dijanjikan mendapat pendampingan, tapi tidak ada. Bahkan ada utusan PT ATU yang datang ke Rutan untuk memaksanya mengaku bahwa perbuatan itu dilakukan sendiri.

Hingga akhirnya, Rosi sadar dikorbankan dan membuat pernyataan tambahan dalam BAP. Ia mengungkapkan bahwa mengalami tekanan pada BAP pertama.

"Setelah jadi tersangka saya baru cerita ke orangtua. Saya baru sadar kalau dipakake (dikorbankan-red)," ucapnya sambil terus tak kuasa menahan tangisnya. Ketiga hakim itu menyesalkan pernyataan Rosi yang baru diungkapkan saat pemeriksaan terdakwa. Seharusnya, pernyataan itu dibuka saat ketiga nama yang disebut Rosi menjadi saksi.

"Mengapa kemarin tidak ngomong? Jujur, ada apa dengan kamu? Sekarang, di sini tidak ada orangnya," kata Hakim Hilarius Grahita. Rosi hanya menjawab lupa sambil menangis. Hingga dirinya menyebut bahwa 95 persen yang bekerja di PT ATU merupakan seniornya.

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Anggota DPRD Kota Pekalongan Ditangkap BNN

Kamis, 2 Februari 2023 | 17:23 WIB
X