Terdampak Krisis Iklim Paling Parah, 1.500 Ha Wilayah Kota Pekalongan Terdampak Rob

- Jumat, 4 November 2022 | 02:46 WIB
Urban Governance Specialist Mercy Corps Arif Ganda Purnama memaparkan hasil kajian Mercy Corps  pada Webinar “Krisis Iklim: Ancaman Tenggelamnya Kota Pekalongan”, Kamis (3/11). www.suaramerdeka-pantura.com/ Isnawati
Urban Governance Specialist Mercy Corps Arif Ganda Purnama memaparkan hasil kajian Mercy Corps pada Webinar “Krisis Iklim: Ancaman Tenggelamnya Kota Pekalongan”, Kamis (3/11). www.suaramerdeka-pantura.com/ Isnawati

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com –Kota Pekalongan menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat krisis iklim. Luas wilayah terdampak banjir rob mencapai 1.500 hektare dari luas wilayah Kota Pekalongan 4.525 hektare. Luas wilayah terdampak banjir rob diperkirakan dapat meningkat empat kali lipat dalam 15 tahun mendatang.  

Untuk dapat menghindari prediksi tersebut, diperlukan adaptasi kawasan, pengendalian banjir dan rob melalui infrastruktur, manajemen sumber daya air dan konservasi serta pelibatan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.

“Jika tidak ada aksi yang benar-benar bermanfaat, luas genangan permanen akan meningkat signifikan,” kata Urban Governance Specialist Mercy Corps Arif Ganda Purnama pada Webinar dengan tema “Krisis Iklim: Ancaman Tenggelamnya Kota Pekalongan” yang diselenggarakan Satya Bumi bersama Society of Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ), Kamis (3/11). 

Arif menjelaskan, berdasarkan kajian yang dilakukan Mercy Corp pada 2020, wilayah berisiko tinggi mencapai 1.500 hektare. Wilayah berisiko tinggi diprediksi meningkat menjadi 5.700 hektare pada 2035.

Pada 2035, lanjut dia, penambahan genangan permanen terlihat semakin ke timur dan selatan hingga menjangkau sebagian Desa Kertijayan dan Desa Simbangkulon di Kabupaten Pekalongan. Selain itu Kelurahan Kalibaros dan Kuripan Yosorejo di Kota Pekalongan.

“Jika saat ini, genangan permanen 2-3 kilometer dari bibir pantai, pada 2035 nanti bisa mencapai 9 kilometer dari bibir pantai. Ini dengan asumsi bahwa kebijakan tanggul yang digunakan masih menggunakan kebijakan tahun 2020. Tanggul tidak ditinggikan, tidak ada sistem penanganan seperti polder,” paparnya.

Menurut Arif, genangan rob permanen yang terjadi di Kota Pekalongan tidak hanya disebabkan kenaikan permukaan air laut, tetapi juga dipengaruhi oleh penurunan muka tanah. Selain itu, drainase perkotaan yang buruk, sedimentasi sungai akibat limbah industri serta kurangnya area resapan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Galdita A. Chulafak mengatakan, laju penurunan permukaan tanah di Kota Pekalongan paling tinggi di wilayah pantai utara Jawa Tengah. terjadi. Jika menggunakan data penginderaan jauh atau remote sensing, penurunan permukaan tanah di Pekalongan berbeda-beda mulai dari 4-11 centimeter.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan Kota Pekalongan rawan terdampak rob. Di kemudian hari, dampaknya diperkirakan bisa jauh lebih besar jika tidak segera diatasi. "Jika tidak ada action dalam menghadapi hal tersebut, tentu tidak dapat dipungkiri Pekalongan akan tenggelam," kata dia. 

Halaman:

Editor: Nur Khoerudin

Tags

Terkini

Imlek, Museum Batik Pamerkan Motif Kelengan

Jumat, 27 Januari 2023 | 15:02 WIB

Vaksinasi Covid 19 Terus Digalakkan di Kota Batik

Kamis, 26 Januari 2023 | 19:15 WIB

Penataan Alun-alun Kota Pekalongan Jadi Perhatian

Senin, 23 Januari 2023 | 19:00 WIB
X