Dugaan Kasus Invoice Fiktif, Bos PT Aquila dan Rekan Kerja Terdakwa Dihadirkan Sebagai Saksi

- Rabu, 2 November 2022 | 17:43 WIB
BERIKAN KESAKSIAN : Direktur PT Aquila Transindo Utama, Muhamad Rondhi, memberikan kesaksian dalam sidang perkara dugaan invoice fiktif dengan terdakwa mantan bawahannya, Rosi Yunita, di PN Pekalongan, Rabu 1 November 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)
BERIKAN KESAKSIAN : Direktur PT Aquila Transindo Utama, Muhamad Rondhi, memberikan kesaksian dalam sidang perkara dugaan invoice fiktif dengan terdakwa mantan bawahannya, Rosi Yunita, di PN Pekalongan, Rabu 1 November 2022. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Sidang kasus dugaan invoice fiktif Pelabuhan PLTU Batang dengan terdakwa Rosi Yunita, mantan karyawan PT Aquila Trans Utama (ATU) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Selasa 1 November 2022. Sidang dengan agenda keterangan saksi itu, menghadirkan Bos PT ATU, Muhamad Rondhi beserta tiga saksi lainnya. Sidang sendiri berjalan secara maraton, ke-empat saksi memberikan kesaksiannya, sehingga sidang yang dimulai siang hari selesai hingga malam hari.

Dalam persidangan, pengacara terdakwa Rosi Yunita, Suparno sempat mempertanyakan, apakah ada indikasi Rosi Yunita dikorbankan jadi pesakitan. Karena yang terlibat pembuatan dokumen tidak hanya terdakwa saja, tapi banyak pihak, namun saksi Rondi mengatakan tidak tahu.

Sidang kali ini menghadirkan empat saksi yang semuanya rekan terdakwa di PT Aquila Transindo Utama (ATU). Yakni saksi yang sebelumnya sempat menghilang saat sidang sebelumnya, Ari Cahyono yang merupakan bagian administrasi keuangan.

Baca Juga: Sidang Kasus Dugaan Invoice Fiktif PLTU Batang, Terdakwa Menangis, Seorang Saksi Hilang Tanpa Jejak

Kemudian tiga saksi lain yakni kapten Kapal peruga pandu tunda kapal Agus Pujotomo, Ahmad Zaenuri, supervisior operational PT ATU atasan terdakwa dan satu saksi yang sebelumya tidak hadir, dan bos atau Direktur PT ATU Muhammad Rondhi. Dari keterangan kapten kapal Agus Pujotomo, terkait 17 invoice yang menjadi barang bukti. Dirinya mengaku hanya berangkat sebanyak 2 kali sesuai berkas perintah pandu. Namun itu juga tidak dilakukan perkejaan pandu tunda kapal, karena kapal sudah berlabuh.

Selain itu menyangsikan beberapa tanda tangan atau paraf yang ada di dokumen pandu tunda kapal. Karena saat balik ke kantor, form yang dia bawa kosong. Karena tidak ketemu dengan nahkoda kapal yang akan di pandu. Sehingga tidak jadi melakukan pelayan pandu tunda PT Sparta Putra Adyaksa (SPA).

Baca Juga: Sidang Dugaan Invoice Fiktif, Terungkap Fakta-Fakta Baru. Saksi : Tak Pernah Menerima SPK dan Invoice

Selain itu, dalam persidangan juga mengaku ada beberapa kesalahan administrasi. Sehingga terkait adanya kasus tagihan palsu dirinya mengaku tidak tahu persis. Namun dari beberapa pernyataan saksi Agus yang dibantah oleh terdakwa Rosi.

Sementara itu, saksi lain Bagian Keuangan PT ATU Ari Cahyono, menegaskan dirinya tidak berwenang mengecek aktivitas pandu tunda, hanya menerima data saja. Berupa pra nota atau form jasa pandu tunda kapal. Dari bagian operasional, untuk membuat invoice. Yakni saksi Ahmad Zaenuri Supervisor Operasional atau atasa terdakwa.

Terungkap juga, saksi Ari Cahyono, yang membuat dua tagihan. Sebanyak 17 tagihan awal dibuat awal September 2021 dan dikirimkan ke PT SPA. Namun awal bulan Oktober ada kesepakatan sepihak dengan PT Timur Bahari terkait pergantian tarif. Sehingga membuat tagihan baru. Jika tagihan awal Rp 200 jutaan, pada tagihan kedua senilai Rp 119 jutaan.

Baca Juga: PT Aquila Serahkan Bukti Tambahan, Kasus Dugaan Invoice Fiktif di Pelabuhan PLTU Batang

Sebagai bagian keuangan, Ari juga mengaku bahwa tidak ada keuntungan dari pihak terdakwa Rosi atas tagihan tersebut. Karena uang pembayaran nantinya masuk rekening Kantor langsung (PT ATU). Saksi Ari juga terus mengaku lupa, atas beberapa hal, padahal di BAP dia melakukan.

Salah satunya, terkait mediasi dengan Penggugat PT SPA, terkait penolakan pembayaran tagihan. Kemudian untuk Saksi Ahmad Zaenuri, supervisior operational PT bagian pembuat pra nota, serta pimpinan dari terdakwa Rosi. Dan bertanggung jawab atas jasa Pandu Tunda.

Dan mengatakan bahwa dirinya membuat pra nota atas Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang (PPKB) dari agen. Bukan atas aktifitas pandu tunda kapal. Sehingga walaupun tidak ada aktivitas pandu tunda, dirinya akan membuat pra nota sebagai pedoman pembuatan tagihan kepada agen.

 

Halaman:

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Anggota DPRD Kota Pekalongan Ditangkap BNN

Kamis, 2 Februari 2023 | 17:23 WIB
X