Angka Prevalensi Stunting Kabupaten Turun Menjadi 17,6 Persen

- Senin, 31 Oktober 2022 | 20:11 WIB
STUNTING: Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie menghadiri diseminasi dan publikasi stunting serta koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting di Hotel Grand Dian Guci, Rabu (26/10/2022). (SM/dok)
STUNTING: Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie menghadiri diseminasi dan publikasi stunting serta koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting di Hotel Grand Dian Guci, Rabu (26/10/2022). (SM/dok)

SLAWI, suaramerdeka-pantura.com - Hasil pengukuran ulang Tim Percepatan dan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Tegal di bulan Agustus 2022 lalu, yang bersamaan dengan pelaksanaan Bulan Imunisas Anak Nasional (BIAN), angka sementara prevalensi stunting di Kabupaten Tegal turun menjadi 17,6 persen.

Sebelumnya berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) naik dari 25,14 persen di tahun 2019 menjadi 28 persen di tahun 2021.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie yang juga menjabat Ketua TPPS Kabupaten Tegal saat berlangsung acara Diseminasi dan Publikasi Stunting serta Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting di Hotel Grand Dian Guci, Rabu (26/10/2022).

Ardie menuturkan, penurunan prevalensi stunting tersebut didasarkan entri data populasi 116.868 balita melalui aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM).

Baca Juga: Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Beri Pelatihan Pembuatan Keripik Kulit Melinjo

Dari jumlah tersebut, 101.915 balita atau 87,21 persennya berhasil diketahui tinggi atau panjang badannya dan didapati 17.906 balita atau 17,6 persennya dalam kondisi stunting.

“Angka prevalensi stunting dari populasi balita ini masih sementara dari yang berhasil kita ukur sampai dengan tanggal 10 Oktober 2022 lalu,” kata Ardie.

Dari hasil pengukuran ulang ini didapati lima Puskesmas dengan angka prevalensi stunting tertinggi, yaitu Puskesmas Bojong 30,1 persen, Puskesmas Kalibakung 27,4 persen, Puskesmas Bumijawa 26,2 persen, Puskesmas Margasari 25,7 persen dan Puskesmas Jatibogor 25,2 persen.

Sedangkan lima Puskesmas dengan angka stunting terendah dijumpai pada Puskesmas Pangkah 5,3 persen, Puskesmas Dukuhwaru 9,6 persen, Puskesmas Kaladawa 10,5 persen, Puskesmas Pagerbarang 11,5 persen dan Puskesmas Talang 12,7 persen.

Baca Juga: Tekan Inflasi, Dishanpan Jateng Gelar Bazar Pangan Murah

Lebih lanjut Ardie mengakui jika pelaksanaan perbaikan data balita melalui Gebyar Posyandu ini menemui sejumlah kendala, seperti tidak semua ibu bisa datang dan menimbang balitanya di posyandu, sehingga ketersediaan data pengukuran balita di posyandu belum bisa mencapai angka 100 persen dari populasi yang ada.

Kendala berikutnya adalah ketersediaan antropometri sebagai alat ukur yang jumlahnya masih terbatas. Hal ini, lanjut Ardie, bisa saja mempengaruhi hasil pengukuran dan interpretasi status gizi balita sasaran.

“Kita sudah mengupayakan hibah alat antropometri dari Kementerian Kesehatan 100 unit. Sedangkan untuk tahun 2023 sudah diusulkan untuk pengadaannya di posyandu yang belum memiliki antropometri sebanyak 1.503 unit. Sehingga diharapkan semua posyandu bisa memiliki alat ini,” ujarnya.

Ardie menekankan jika kasus stunting anak ini tidak ditangani dengan benar akan berdampak pada tingkat kecerdasan, kemampuan kognitif dan kesehatannya yang terganggu. Saat tumbuh dewasa ia akan mudah sakit.

Baca Juga: Jelang Akhir Jabatan, Bupati Brebes Rotasi 58 Pejabat

Halaman:

Editor: Siwi Nurbiajanti

Tags

Terkini

Layanan Pembuatan Kartu AK 1 Semakin Mudah dan Cepat

Sabtu, 28 Januari 2023 | 19:58 WIB

Warga Dukuh Tembara Iuran Membangun Jembatan

Rabu, 19 Oktober 2022 | 14:53 WIB

Polres Tegal Bagikan 350 Paket Sembako Kepada Nelayan

Rabu, 28 September 2022 | 08:14 WIB

Terekam CCTV, Pembobol Mesin ATM BRI Gunakan Linggis

Kamis, 15 September 2022 | 17:41 WIB
X