Sidang Kasus Dugaan Invoice Fiktif PLTU Batang, Terdakwa Menangis, Seorang Saksi Hilang Tanpa Jejak

- Selasa, 25 Oktober 2022 | 23:33 WIB
BERIKAN KESAKSIAN : Kepala Kantor Unit Pelayanan Pelabuhan (KUPP) Kelas 3 Batang, Ryan Patigor Hutabarat, memberikan kesaksian dalam sidang dugaan kasus invoice fiktif di PLTU Batang dalam sidang yang digelar di PN Pekalongan, Selasa (25/10). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi) (Picasa)
BERIKAN KESAKSIAN : Kepala Kantor Unit Pelayanan Pelabuhan (KUPP) Kelas 3 Batang, Ryan Patigor Hutabarat, memberikan kesaksian dalam sidang dugaan kasus invoice fiktif di PLTU Batang dalam sidang yang digelar di PN Pekalongan, Selasa (25/10). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi) (Picasa)

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Sidang pidana kasus dugaan invoice fiktif pelayanan di Pelabuhan Khusus PLTU Batang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Selasa 25 Oktober 2022. Sidang sendiri menghadirkan tiga orang saksi dari Kepala Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Kelas 3 Batang, Ryan Patigor Hutabarat, Staf KUPP Bedwind Kurniangga dan Manajer Keuangan PT Aquila Transindo Urama (ATU) Ari Cahyono.

Sidang kasus pidana tersebut dipimpin ketua majelis hakim Mukhtari didampingi Hilarius Grahita dan Budi Setyawan, masing-masing hakim anggota. Adapun Direktur Utama PT ATU yang sedianya dipanggil sebagai saksi berhalangan hadir. Alasannya, karena masih sama seperti sidang sebelumnya yakni masih berada di luar kota.

Baca Juga: Sidang Dugaan Invoice Fiktif, Terungkap Fakta-Fakta Baru. Saksi : Tak Pernah Menerima SPK dan Invoice

Pada sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi itu, majelis hakim paling lama memeriksa KUPP Batang. Saksi Ryan Patigor dicecar sejumlah pertanyaan oleh jaksa, hakim dan kuasa hukum terdakwa Rosi Yunita terkait perannya sebagai pengawas. Beberapa kali majelis hakim tampak bertanya pada saksi dengan nada tinggi. Terutama terkait pola pengawasan terhadap layanan jasa pandu dan tunda di kawasan Pelabuhan Khusus PLTU Batang.

Hakim Hilarius Grahita menilai KUPP selaku pengawas pelabuhan lalai. Hakim menganggap kinerja KUPP masih sangat kurang. Jalannya sidang pun diwarnai dengan 'hilangnya' seorang saksi. Satu saksi dari PT Aquila Transindo Utama (ATU), Ari Cahyono, menghilang meski sebelumnya telah disumpah sebelum memberikan kesaksiannya bersama saksi lainnya.

Baca Juga: Ditreskrimsus Polda Jateng Periksa Terdakwa Kasus Invoice Fiktif, Dugaan Korupsi Jasa Pandu dan Tunda Kapal

Peristiwa itu terjadi usai pemeriksaan dua saksi yaitu Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Kelas 3 Batang, Ryan Patigor Hutabarat dan Bedwind Kurniangga selaku Staf KUPP. Sekitar pukul 15.30, Saksi dari PT ATU dipanggil ketua majelis hakim Mukhtari. Tapi tidak ada respons. Hingga akhirnya, sidang diskors sementara, kemudian Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) sempat mencari saksi dimaksud. Sebagian jaksa mencari berkeliling gedung PN Pekalongan. Kemudian, ada yang berusaha menelfon saksi tapi tidak ada jawaban.

"Bagaimana JPU, apakah saksi bisa dihadirkan," tanya Hakim Ketua Mukhtari, kepada JPU. "Setelah kita cari tidak ada, dan ditelfon pun no respon, sepertinya saksi (Ari Cahyono-red), tidak sedang berada di pengadilan," timpal Diah Purnamaningsih, SH, salah satu tim JPU.

Ketua Majelis Hakim Mukhtari bersama dua hakim anggota Budi Setyawan,dan Hilarius Grahita akhirnya memutuskan untuk menunda sidang. Hingga hakim memukul palu, saksi tidak hadir. "Sidang akan dilanjutkan besok (Rabu, 26 Oktober 2022) dengan agenda pemeriksaan saksi serta saksi ahli," pungkas Mukhtari.

Terdakwa, Rosi Yunita sendiri selama jalanya sidang yang mengikuti secara online dari Rutan Pekalongan, terlihat terus meneteskan air mata. Sesekali membasuh air matanya dengan tisu. Terdakwa didampingi penasihat hukum Angga Setiawan SH. Sementara kuasa hukum lainnya Suparno SH mengikuti sidang di PN Pekalongan, bersama majelis hakim dan JPU.

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Anggota DPRD Kota Pekalongan Ditangkap BNN

Kamis, 2 Februari 2023 | 17:23 WIB
X