Organisasi Wanita di Kota Pekalongan Deklarasikan “Kebaya Goes to UNESCO”

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 18:25 WIB
BERKEBAYA: Anggota berbagai organisasi wanita di Kota Pekalongan mengikuti jalan sehat berkebaya “Gebyar Kebaya Goes to UNESCO” dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional, Minggu (2/10). Foto: suaramerdeka-pantura.com/ dok
BERKEBAYA: Anggota berbagai organisasi wanita di Kota Pekalongan mengikuti jalan sehat berkebaya “Gebyar Kebaya Goes to UNESCO” dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional, Minggu (2/10). Foto: suaramerdeka-pantura.com/ dok

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com – Beberapa organisasi wanita di Kota Pekalongan mendeklarasikan “Kebaya Goes to UNESCO”. Mereka mendukung langkah-langkah untuk mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia ke UNESCO.

Deklarasi “Kebaya Goes to UNESCO” itu dikumandangkan pada upacara peringatan Hari Batik Nasional di halaman Museum Batik, Minggu (2/10). Ketua dari masing-masing organisasi wanita menandatangani deklarasi disaksikan Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid.

Organisasi wanita yang mendeklarasikan “Kebaya Goes to UNESCO” terdiri dari Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan dan Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI) Kota Pekalongan. Selain itu, Dharma Wanita Persatuan Kota Pekalongan, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Pekalongan dan Perkumpulan Annisa Sholehah.

Sebelumnya, sebanyak 700 wanita dari berbagai organisasi wanita di Kota Pekalongan mengikuti jalan sehat dengan mengenakan kebaya. Acara bertajuk “Gebyar Kebaya Goes to UNESCO” itu bertujuan untuk menyosialisasikan kebaya sebagai warisan budaya agar masyarakat senantiasa bangga mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari. Selain itu juga sebagai bentuk dukungan terhadap pengajuan kebaya ke UNESCO.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan Inggit Soraya mengatakan, kebaya merupakan warisan budaya yang harus dibanggakan. “Kita harus bangga memakainya sebagai pakaian sehari-hari wanita Indonesia," kata Inggit.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Annisa Sholehah, Maryati berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun. “Harapan kami, acara ini bisa menjadi event tahunan sampai kebaya bisa disetujui oleh UNESCO," harapnya.

Selain itu, pada peringatan Hari Batik Nasional, organisasi wanita Kota Pekalongan juga menyelenggarakan “Kebaya Bersolek”. Konsep “Kebaya Bersolek” ini merias wajah dengan memadupadankan dengan kebaya yang dikenakan.

Menurut Inggit, saat ini, kebaya sudah banyak dimodifikasi sehingga sudah tidak tampak kuno. “Sekarang sudah banyak kreativitas dari anak-anak muda yang pandai memadupadankannya agar terkesan anggun dan disesuaikan dengan perkembangan zaman," terangnya.

Ketua I Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan Istiqomah menambahkan, masyarakat Kota Pekalongan bisa terus melestarikan kebaya. Salah satu caranya dengan mengenakan kebaya secara rutin seminggu sekali.

Halaman:

Editor: Nur Khoerudin

Tags

Terkini

PPID Kota Pekalongan Lolos Uji Publik KIP

Rabu, 23 November 2022 | 22:43 WIB
X