Rezim Taliban Barkuasa di Afghanistan : Euforia vs Paranoid

- Jumat, 27 Agustus 2021 | 05:55 WIB
KH As'ad Said Ali foto/ Dok Facebook KH As'ad Said Ali
KH As'ad Said Ali foto/ Dok Facebook KH As'ad Said Ali

JATUH bangunnya rezim negara lain sebenarnya tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, kecuali terjadi di negara tetangga yang berbatasan langsung.

Anehnya dalam kasus Afganistan, ada satu pihak, kelompok “ Eforia “ , menganggap seolah olah kemenangan Taliban adalah kemenangannya. Mereka ini adalah pendukung khilafaisme dan pengikut Alqaeda serta ISIS.

Pada sisi lain terdapat kelompok “paranoid” . Kemenangan dan berdirinya kembali “Imarat Islam Afganistan“ dianggap sebagai bencana besar dan menjadi ancaman nasional yaitu mereka yg berpandangan sekularistik dan cenderung Islamphobia.

Sikap keduanya sangat subjektif dan tidak didasarkan pada argumen yang sahih. Setiap negara mempunyai budaya dan sejarah politik yang berlainan, sehingga mempengaruhi sistem politik apa yang mereka pilih.

Seperti diketahui sejak abad ke XVIII Afganistan dipimpin oleh dynasti Barakzai yg didirikan oleh Dost Muhammad Khan dengan gelar “ Emir “ dan negara disebut “Emirat “ berbasis Islam Sunni Deobandi.

Sebelumnya Afghanistan juga dikuasai oleh rezim Islam antara lain dinasty Mughal yang kekuasaannya mencapai anak benua India.

Emir terakhir Emirat Afganistan adalah Mohammad Zahir Shah ( 1933 - 1973 ) digulingkan oleh sepupunya Daud Khan yang kemudian merubah sistem menjadi sistem demokrasi.

Tetapi hanya bertahan sampai 1978, karena dikudeta oleh partai komunis yang dipimpin oleh tiga serangkai Moh Taraki, Babrak Karmal dan Hafizullah Amin yang mendirikan mendirikan rezim komunis. Uni Soviet mengirimkan pasukan pd 1980 dan berada disana sampai 1989.

Sejak 1984 tujuh fraksi Mujahidin yang mendapat dukungan dari AS / NATO, Saudi Arabia, Pakistan dan sejumlah negara non komunis lainnya ( termasuk Indonesia ) melakukan perlawanan militer sampai penarikan Soviet mulai 1989.

Selama perang Afghanistan itulah terbentuk embrio terorisme ( Al Qaeda ) antara lain karena partisispasi dari kelompok radikal yg beroposisi di negara masing masing misalnya kaum radikal Mesir dan DI/ TII.

Sistem demokrasi yang diterapkan oleh Mujahidin tidak berhasil membawa keamanan dan kesejahteraan, akhirnya dijatuhkan oleh Taliban dipimpin oleh Mullah Omar pada 1996 yang mendeklarasikan “ Emirat Islam Afghanistan”.

Halaman:

Editor: Agus Setiawan

Tags

Terkini

X