Quo Vadis Arah Kebijakan Imarat Islam Afghanistan

- Jumat, 20 Agustus 2021 | 19:54 WIB
KH. As’ad Said Al
KH. As’ad Said Al

Dunia menunggu kebijakan Imarat Islam Afghanistan dalam mengatasi terorisme yang bercokol di negara itu sejak akhir dekade 1990-an.

Pada 1996 Osama Bin Ladin ( OBL )mulai melakukan aksi teror dari Yaman dan kemudian memindahkan 200 pengikutnya ke Afghanistan pada pertengahan 1996, ketika itu Afganistan dibawah Pres Burhanudin Rabbani.

 Sampai saat ini, Afganistan menjadi basis dan persembunyian kelompok militan dan teroris. Ada dua kelompok militan yang menjadikan Afghanistan sebagai basis operasinya yaitu East Turkistan Islamic Party ( ETIP - Uighur ) dan Islamic Movement of Uzbekistan ( IMU ).

Teroris AL QAEDA tersebar di 15 provinsi di Afghanistan. Pengikut ISIS dari berbagai negara juga hadir di Afganistan termasuk teroris asal Indonesia.

 Banyak pihak yang meragukan sikap Imarat Islam Afghanistan ( IMIA ) terhadap teroris dan kaum militan yang becokol di Afganistan. IMIA secara jelas menyatakan sikapnya terhadap terorisme dan mulai memberikan sinyal nyata kepada dunia.

Pimpinan ISIS Asia Selatan, Abu Omar Al Khorasani yang mendekam di penjara Pul‘i Charki di Kabul sejak setahun lalu, dieksekusi tanpa serenemonial hanya empat hari setelah IMIA menduduki Kabul.

Latihan Militer

Penguasa baru Afghanistan tersebut ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa IMIA tidak akan membiarkan wilayahnya dijadikan basis operasi terorisme.

IMIA juga memberikan isyarat yang sama kepada RRC dan Rusia; IMIA tidak mentolelir kegiatatan East Turkistan Islamic Party ( ETIP- UIGHUR ) yang menjadi konsern RRC dan aktivitas IsLamic movement of Uzbekistan ( IMU ) yang menjadi konsern Rusia.

Dalam kaitan ini Rusia menyelenggarakan latihan militer dengan Uzbekistan dan Tajikistan, hanya 20 km dari perbatasan Afganistan seminggu sebelumnya.

Halaman:

Editor: Agus Setiawan

Tags

Terkini

X