Fatmawati, Aktivis Perempuan Muhammadiyah Yang Menjadi Ibu Negara Pertama dan Penjahit Bendera Merah Putih

- Senin, 16 Agustus 2021 | 19:27 WIB
Sampul buku Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno,  foto/ Dok Situs Resmi Provinsi Bengkulu
Sampul buku Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno, foto/ Dok Situs Resmi Provinsi Bengkulu

SEBELUM menjadi istri dari pembaca naskah teks proklamasi Bung Karno, Fatmawati memang sejak kecil sudah dikenal sebagai aktivis di organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah.

Masa remajanya selain sekolah, juga sibuk dengan berbagai kegiatan organiasi Nasyi'atul Muhammadiyah, dimana organisasi anggotanya adalah para aktivis muda perempuan Muhammdiyah.

Dalam artikel kali ini, suaramerdeka-pantura.com akan menyajikan sebuah tulisan yang bersumber dari situs resmi Muhammadiyah yang diunggah pada 16 Agutus 2021.

Tulisan ini menceritakan mengenai sejarah singkat perjalanan tokoh nasional, pahwlawan nasional dan sosok yang menjahit sang saka Bendera Merah Putih.

Fatmawati binti Hassandin tidak hanya berjasa dalam menjahit Sang Saka, bendera Merah Putih pertama Republik Indonesia. Tetapi juga seorang ibu negara yang tangguh dalam menjaga bara api perjuangan sang suami, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Soekarno untuk tetap menyala dalam masa-masa sulit di bawah penindasan Jepang, masa menuju kemerdekaan, hingga masa-masa sulit mempertahankan kemerdekaan di bawah serangan Agresi Militer Belanda 1 dan 2.

Berasal dari Keluarga Muhammadiyah

Meskipun gerak dakwah Muhammadiyah di Sumatera secara resmi baru ditetapkan pada 1925 melalui pendirian Cabang Muhammadiyah pertama di Maninjau oleh AR Sutan Mansur, secara kultural dakwah Muhammadiyah ditengarai telah sampai di pulau Sumatera beberapa tahun sejak kelahirannya pada 1912 di Yogyakarta.

Salim dan Hardiansyah dalam Napak Tilas Jejak Muhammadiyah Bengkulu (2019) mencatat secara kronik, jejak kultural dakwah progresif yang kelak menjadi cikal bakal Muhammadiyah telah sampai di Bengkulu pada 1915 oleh para pendakwah Islam dari Minangkabau.

Saat Fatmawati lahir pada 5 Februari 1923, Muhammadiyah belum memiliki cabang resmi di luar Jawa. Tetapi, antara tahun tersebut hingga 1925 saat kedatangan pendiri Sarekat Ambon Alexander Jacob Patty di Bengkulu untuk menjalani masa pembuangannya, ditengarai sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi pergerakan di Bengkulu.

Ancaman Belanda pada Keluarga

Halaman:

Editor: Agus Setiawan

Sumber: Situs Resmi Muhammadiyah

Tags

Terkini

X