Covid, Vaksin dan Gerakan Ultra Liberal

- Jumat, 23 Juli 2021 | 20:06 WIB
KH Asad Ali, foto/ Dok Istimewa
KH Asad Ali, foto/ Dok Istimewa

SERBUAN Covid varian Delta yang sempat mengagetkan banyak negara termasuk Indonesia mulai surut, meskipun bukan berarti ancaman Covid telah berakhir karena virus terus bermutasi menebar ketakutan.

Berdasarkan sukses story sejumlah negara khususnya Amerika Serikat dan Inggris, Covid memakan korban minimal manakala suatu negara telah menginjeksi warganya dengan 'vaksin'.

Besarnya jumlah vaksin yang dibagikan ke masyarakat berbanding terbalik dengan jumlah angka kematian karena covid.

Semakin banyak vaksin dibagikan, semakin kecil jumlah angka kematian warga masyarakat karena telah tercipta 'imunitas kelompok'. Kebijaksanaan Indonesia untuk terus menggenjot vaksin sudah tepat dan sedang berproses menuju 70 juta orang.

Selanjutnya bagaimana menjaga proses tersebut secara konsisten agar mencapai 70 persen jumlah penduduk, meskipun persoalannya tidak sederhana mengingat produksi vaksin dunia yang terbatas dan adanya kendala persoalan koordinasi pusat dan daerah serta antara daerah tingkat satu dengan tingkat dua.

Tapi vaksin saja tidak cukup, diperlukan disiplin masyarakat yang kuat dalam menerapkan prokes. Disiplin sosial menjadi suatu yang mahal seperti yang kita rasakan, sulit diterapkan. Selama ini kita alpa mendidik disiplin sosial, terutama kurangnya suri tauladan para elite.

Pada hal Ibadah khususnya shalat lima waktu menjadi contoh bagaimana disiplin itu berjalan secara instan dimana makmum mengikuti gerakan imam dengan tertib secara otomatis, suatu kesadaran patuh terhadap norma tanpa dipaksa oleh siapapun.

Kelemahan masyarakat lainnya yang terbaca selama Covid-19 adalah mudah terpengaruh asing. Anjuran atau gerakan anti vaksin, dan masker serta tidak percaya virus merupakan pengaruh gerakan politik dari luar negeri yg dikenal dengan Kelompok Ultra Liberal.

Gerakan itu muncul dari internal kaum Neo - Liberalisme sendiri setelah melihat realitas bahwa kaum Neo Lib gagal mengendalikan globalisasi. Ternyata globalisasi lebih menguntungkan kaum kongglomerat tertentu ( al Bill Gate & Rockefeller ) karena mereka bisa memindahkan modal dan kegiatan usaha kesuatu negara lain yg lebih menguntungkan.

Dan secara tidak terduga Republik Rakyat Cina mengambil manfaat lebih besar , tampil sebagai raksasa ekonomi dunia. Kaum Ultra Liberal tersebut menjadikan para konglomerat itu sebagai 'kambing hitam' dituduh sebagai biang keladi Covid bekerjasama dengan WHO.

Halaman:

Editor: Agus Setiawan

Tags

Terkini

X