Manajemen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam : Urgensi Kepemimpinan Interharmoni di Era Disrupsi

- Jumat, 19 Agustus 2022 | 23:32 WIB
Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag. Foto : (suaramerdeka.com/dok)
Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag. Foto : (suaramerdeka.com/dok)

ERA Disrupsi merupakan era ketidakpastian, akselerasi perubahan dari berbagai lini kehidupan sebagai akibat dari perkembangan teknologi terutama teknologi informasi. Ciri-ciri era disrupsi: Valatility: perubahan yang massif, cepat dan sulit diprediksi, Uncertainty: ketidakpastian, Complexity, Ambiguity.

Manusia termasuk organisasi atau lembaga juga harus mendisrupsi dirinya agar mampu menyesuaikan diri sehingga mampu bertahan. Kita diingatkan dengan kata-kata CEO NOKIA “Stephen Elop” – “We didn’t do anything wrong, but then we lost”. PTKI perlu bertransformasi terutama transformasi manajemen untuk selalu berinovasi agar tetap bertahan bahkan mampu bersaing dalam era disrupsi.

Tantangan PTKI di Era Disrupsi

1. Tingkat persaingan yang makin kompetitif, baik dengan perguruan tinggi dalam negeri maupun dengan perguruan tinggi luar negeri, mengingat banyak kampus luar negeri yang akan masuk ke Indonesia; 2. Eskalasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya komunikasi dan informasi yang sangat cepat (kalau tidak bisa beradaptasi, pelan-pelan akan mati. 3. Meningkatnya tuntutan akan layanan-layanan perguruan tinggi dengan standar global (ISO, akreditasi internasional, dan lain sebagainya). 4. Meningkatnya tuntutan akan hasil pendidikan/luaran/output yang bermutu dan berdaya saing tidak hanya local akan tetapi juga global; 5. Meningkatnya tuntutan pengelolaan perguruan tinggi yang transparan dan akuntabel (setahun rata-rata diaudit 2 sampai 3 kali).

Disamping beberapa tantangan yang telah disebutkan tadi, menurut Pieter J. Vermeulen PT atau PTKI juga dihadapkan pada isu-isu yang harus dihadapi: (a) isu Co-operation; (b) Compatibility; (c) Competitivenes; (d) Mobility of students and staff; (e) Quality assurance; (f) Integrated assurance (transferable credits); (g) Funding mechanisms. Isu ini penting dihadapi apabila ingin menjadi bagian dari “The great visions of a knowledge society, a global higher education village and a global learning environment” Untuk menghadapi tantangan dan isu-isu di atas, saya menawarkan model kepemimpinan yaitu kepemimpinan interharmoni untuk memenej PTKI menghadapi Era Disrupsi.

Kepemimpinan Interharmoni dalam Manajemen PTKI di Era Disrupsi

Kepemimpinan interharmoni adalah kepemimpinan yang dipandu oleh kekuatan karakter kepemimpinan profetik dan kepemimpinan 6C. Model kepemimpinan ini memberi pemahaman kepada kita bahwa seorang pemimpin harus dapat mengelola tantangan dan sumber daya dengan menggunakan keterampilannya didasarkan pada paradigma filosofis dan landasan nilai-nilai spriritual.

1. Paradigma filosofis. Aliran filsafat yang dijadikan sandaran dalam manajemen kepemimpinan interharmoni adalah progresivisme dan humanisme. Kedua aliran filsafat tersebut memiliki nilai-nilai yang tepat pada sistuasi dan kondisi yang dialami lembaga perguruan tinggi, terutama Progresivisme yang memiliki sifat selalu berkembang dapat memberikan dorongan kepada pemimpin lembaga untuk selalu berkembang dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
2. Landasan Spiritual dalam kepemimpinan interharmoni diambil dari nilai-nilai kepemimpinan propetik Rasulullah SAW yaitu siddiq, Amanah, tabligh, fathanah. Sikap kepemimpinan Rasulullah SAW (propetik) inilah yang dijadikan landasan untuk mengelola lembaga atau organisasi.

Objek Kepemimpinan Interharmoni

Paradigma landasan kepemimpinan interharmoni digunakan sebagai dasar untuk mengelola berbagai aspek tantangan, sumber daya, dan keterampilan organisasi (perguruan tinggi).

Halaman:

Editor: Kuswandi SM

Tags

Terkini

X