Membumikan Tarekat Kebangsaan, untuk Pengembangan Karakter Moderat di Indonesia

- Rabu, 27 Juli 2022 | 08:46 WIB
Prof. Dr. H.Imam Kanafi al Jauhari, M.Ag (Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/dok) (Picasa)
Prof. Dr. H.Imam Kanafi al Jauhari, M.Ag (Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/dok) (Picasa)


Tiga tokoh tarekat Indonesia ini, menjadi model dalam membumikan tarekat kebangsaan; Pertama; K.H. Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin, Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari SuryalaTasikmalaya. Beliau Abah Anom, telah memberikan sumbangan besardan amal nyata bagi pemberantasan kaum sparatis DI/TII dan menyadarkan penganutnya kepangkuan NKRI, melakukan spiritulisasi praktik politik dengan berhasil merubah Golongan Karya (Golkar) menjadi Golongan Dzikir (Golkir), Beliau turut membimbing dan mendampingi proses politik dengan duduk di MPR beberapa periode, melakukan pemberdayaan ekonomi pedesaan dengan peningkatan peran koperasi dan produktifitas pertanian sehingga mendapatkan berkali-kali tokoh swasembada pangan dari presiden.

Beliau juga mempelopori gerakan peduli lingkungan sehingga mendapatkan hadiah kalpataru sebagai tokoh lingkungan dari Presiden, serta mendirikan pondok khusus Inabah untuk rehabilitasi penyalahgunaan narkoba  berbasis dzikir sebagai upaya penyelamatan generasi bangsa, sehingga mendapatkan apresiasi dari Unesco.

Tidak ketinggalan, Beliau Abah Anom mendirikan lembaga pendidikan berbasis tarekat, dari tingkat dasar sampai pascasarjana. Untuk menjaga amalan tarekat Beliau dirikan Yayasan dan lembaga dakwah dari tingkat pusat sampai daerah. Abah Anom juga sangat aktif dalam kegiatan mempersatukan komponen masyarakat, sehingga tercipta situasi dan suasana kondusif dan aman bagi pembangunan bangsa.Inilah bukti kaum terakat tidak hanya memutar tasbih saja, tetapi juga memikirkan urusan riil keummatan dan kebangsaan.


Kedua, K.H Abdurrahman Wahid. Gusdur sebagai pewaris biologi dan ideologi pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, dimana darah Tarekat Qadiriyah Nasyabandiyah dari Syaikhona Kholil Bangkalan, di transformasikan oleh Gusdur dalam pengembangan wacana dan gerakan demokrasi dan keadilan, pemberdayaan masyarakat dan pesantren, membangun kesadaran kosmopolitanisme Islam dan civil society, juga gigih dalam upaya pribumisasi Islam yang menimbulkan kontroversi di banyakkalangan, pengembangan etika politik yang santun, “politik ngemong” dan “ngalah” sehingga rela dilengserkan dari kepresidenan, dan Beliau Gusdur peduli dengan upaya kesetaraan jender dengan diterbitkannya Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan jender dalam pembangunan Nasional, dan perlindungan pada kaum minoritas dalam bingkai pluralisme dan humanism dengan dikeluarkanya Kepres No. 6/2000 tentang Pengakuan agama Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.

Beliau Gusdur juga memberi contoh gaya hidup yang sederhana, zuhud, hormat ulama sepuh dan pendahulu dengan hobi ziarahnya, lebih memperhatikan dan peduli dengan urusan orang lain dari pada diri dan keluarganya. Itulah aktualisa siruh tarekat pada diri Gusdur yang sangat mencintai Indonesia, yang patut menjadi teladan bagi kita semua, khususnya civitas UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.


Ketiga, Maulana Habib M.Luthfi bin Hasyim bin Yahya, Sang Mursyid Tarekat Sadziliyah dan tarekat lainnya, Rais Aam JATMAN, telah secara komprehensif membumikan tarekat kebangsaan dengan menggelorakan cinta tanah air dalam berbagai kegiatan dakwahnya, memantapkan semangat tekad NKRI harga mati. Beliau juga sangat aktif dalam upaya pembangunan kesadran sejarah supaya tidak kehilangan jatidiri bangsa, penguatan persatuan antara TNI-POLRI-Ulama-Umara-Penguasaha dan masyarakat, pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui koperasi serta pemberdayaan mgenerasi mudamelalui pembentukan MATAN (Mahasiswa ahl Thoriqah) dan lembaga PETANESIA (Pencinta Tanah Air Indonesia).

Beliau juga memiliki kepedulian pada lingkungan hidup, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan ummat dan bangsa, serta menjadi “pemomong bangsa” yang membimbing dan mempersatukan komponen bangsa, sehingga diamanhi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, serta ketokohanya in imejadikan Beliau didaula tsebagai presiden sufi dunia dan diaku imenjadi 50 Muslim berpengaruh di dunia. Inilah bukti para ulama terakat, dalam membumikan tarekat, telah berkiprah secara nyata dalam berbagai bidang yang dibutuhkan ummat dan bangsa.


Strategi Membumikan Tarekat Kebangsaan


Strategi pembumian tarekat kebangsaan oleh para tokoh-tokoh tersebut, dan tokoh-tokoh tarekat yang lainnya, memberikan sumbangan yang signifikan bagi pembentukan karakter moderat di Indonesia. Dengan strategi 5 M; Mengamalkan, Melestarikan, Memberdayakan, Mendakwahkan dan Mengkolaborasikan, maka Tarekat Kebangsaan berkonstribusi bagi pengembangan karakterbangsa yang beriman, humanis, kompetitif, bersatu, berakhlaq mulia, toleran, gotong royong, patriotic, dinamis, berbudaya dan berorientasi pada iptek berdasarkan PBNU (Pancasila, Bhennika Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945).


Pembumian tarekat kebangsaan menjadi kebutuhan untuk menghadapi tantangan masa depan kebangsaan ini. Amaliah tarekat perlu dipahami dalam konteks solusi problem kebangsaan yang semakin komplek melalui pengamalan ajarannya secara konsisten, dilestarikan melaui kelembagaan yang diakui dan dikelola dengan baik, pemberdayaan SSDM nya baik mursyid, muballigh maupun jamaahnya secara komprehensif.

Halaman:

Editor: Kuswandi SM

Tags

Terkini

X