Membumikan Tarekat Kebangsaan, untuk Pengembangan Karakter Moderat di Indonesia

- Rabu, 27 Juli 2022 | 08:46 WIB
Prof. Dr. H.Imam Kanafi al Jauhari, M.Ag (Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/dok) (Picasa)
Prof. Dr. H.Imam Kanafi al Jauhari, M.Ag (Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan). Foto : (suaramerdeka-pantura.com/dok) (Picasa)

ASPEK Ke-islaman saat ini,masih banyak yang disalah pahami oleh masyarakat yaitu Ilmu Tasawuf yang dijalankan secara intens melalui tarekat. Banyak kalangan yang menuduh komunitas tarekat adalah kelompok ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan karena dianggap tidak ada dasar dari Al-Qur’an dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W. Bahkanpratik-praktik tarekat dianggap sebagai pemicu kemunduran ummat Islam karena dianggap terlalu asik dengan urusan ibadah ukhrawi individual saja, dengan amalan-amalan wirid memutar tasbih di masjid dan musala, hidup miskin tak berharta, anti terhadap perkembangan sosial-budaya dan tidak peduli dengan urusan keummatan dan kebangsaan.

Problem Kebangsaan


Terdapat 5 problem kebangsaan yang sedang kita hadapi. Pertama, disorientasi dalam implementasi nilai-nilai Pancasila, yang ditandai oleh perubahan sikap dan perilaku masyarakat; menguatnya pola dan gaya hidup materialisme dan kapitalisme, munculnya sikap individualistic dan egositik diiringi dengan memudarnya perilaku gotong-royong, maraknya sikap intelorenasi, maraknya kriminalitas, tindak asusila, tindakan diskriminasi dan kekerasan berbasis suku, agama dan jender. Bahkan yang paling memprihatinkan mulai marak pemahaman dan gerakan anti Pancasila.

Kedua, bergesernya nilai-nilai Akhlaq di masyarakat, dimana nilai-nilai keramah tamahan, kedamaian, kerukunan, kesabaran,musyawarah dan sebagainya tersebut seakan tergeser dan tergantikan oleh sikap mudah marah, egois, tidak manusiawi, konflik, perkelaian, tawuran, intoleran, mudah mengkafirkan dan sebagaianya.

Ketiga,memudarnya kesadaran nilai-nilai budaya bangsa; dengan maraknya anarkhisme, mudah marah dan emosi, sering terjadi tawuran antar warga dan kelompok, mudah berkonflik, mudah terprovokasi, tidak sabaran dalam mendapatkan sesuatu, tidak menghargai waktu, nyawa dan sebagai. Juga maraknya korupsi, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, pornografi, dan sebagainya, sehingga berubah menjadi bangsa yang tidak disiplin, bangsa yang tega, bangsa yang emosional dan anarkhis.

Ke-empat, ancaman disintegrasi bangsa; mulai banyak berkembang narasi dan aksi intolernsi dan konflik berbasis perbedaan suku, bangsa, bahasa dan agama. Sehingga muncul gerakan meminta merdeka.

Kelima, melemahnya kemandirian bangsa; dengan membudayanya gaya hidup praktis pragmatis, serta serba instan, konsumtif. Hal ini berakibat pada melemahnya daya kreasi dan inovasi bangsa, karena semua kebutuhan dan keinginan dimanja oleh jasa-jasa layanan pemenuhannya. Masyarakat sebagian lebih bangga dengan penggunaan produk luar negeri yang dianggap lebih maju dan lebih bergengsi. Import barang-barang kebutuhan hidup keseharian semakin membuat ketergantungan kepada negara lain semakin tinggi.

Tarekat Kebangsaan Sebagai Solusi


Perlu internalisasi nilai-nilai karakter keislaman yang moderat untuk menyelesaikan berbagai problem kebangsaan yang sedang kita hadapi. Para ulama tarekat secara berkesinambungan antar genarsi, telah berhasil membangun karakter keislaman yang moderat; santun, damai, adil, rukun, tasamuh, ta’awun, peduli, sabar, Amanah serta berjiwa patriotism untuk membela ummat dan bangsa. Karakter yang dibangun oleh para ulama tarekat inilah yang kemudian menjadi ciri khas karakter Islam Ahlussunnah Waljama’ah dan karakter bangsa Indonesia pada umumnya.

Ketika budaya global menjadi trend setter dan Islam trans nasional semakin marak yang mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI, maka model tarekat kebangsaan menjadi sangat penting untuk dibumikan, dalam rangka membangun dan mengokohkan karakter moderasi Islam di Indonesia.

Halaman:

Editor: Kuswandi SM

Tags

Terkini

X