Puluhan Pekerja Asal Brebes Terlantar di Ternate Akibat Upah Tak Dibayar

- Jumat, 8 Juli 2022 | 16:44 WIB
TERLANTAR : Kondisi para pekerja bangunan asal Brebes yang terlantar di Desa Tanjung Uli Kepulauan Halmahera Tengah, Kecamatan Lelilef, Kabupaten Weda Provinsi Maluku Utara, akibat hak upahnya tidak dibayarkan. (SM/dok.istimewa)
TERLANTAR : Kondisi para pekerja bangunan asal Brebes yang terlantar di Desa Tanjung Uli Kepulauan Halmahera Tengah, Kecamatan Lelilef, Kabupaten Weda Provinsi Maluku Utara, akibat hak upahnya tidak dibayarkan. (SM/dok.istimewa)

BREBES, suaramerdeka-pantura.com - Puluhan pekerja bangunan asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah kini terlantar di Desa Tanjung Uli Kepulauan Halmahera Tengah, Kecamatan Lelilef, Kabupaten Weda Provinsi Maluku Utara.

Mereka terlantar akibat upah yang menjadi haknya tidak dibayarkan. Mereka berharap pemerintah daerah bisa turun tangan agar bisa dipulangkan ke kampung halaman.

Tono Wirdiatna (39) salah seorang pekerja yang terlantar asal Desa Sindangheula, Kecamatan Banjarharjo, Brebes mengaku, jumlah pekerja yang terlantar di Tertante semuanya ada 32 orang. Sebanyak 27 orang berasal dari Brebes, dan sisanya 5 orang berasal dari Palembang Sumatera Selatan.

Baca Juga: Jalan Rusak dan Kecewa Audiensi Tak Ditemui Bupati, Warga di Lereng Gunung Slamet Ancam Unjuk Rasa Besar-Besar

Dia dan kawan-kawannya terlantar di luar Pulau Jawa karena hingga kini upah kerja yang menjadi haknya belum dibayarkan. "Totalnya ada 32 orang pekerja yang terlantar, 5 orang di antaranya asal Palembang," katanya Jumat (8/7/2022) saat dihubungi wartawan melalui telepon.

Tono mengungkapkan, pihaknya dan pekerja lain berangkat ke Halmahera Tengah atas ajakan Panjul yang merupakan pekerja asal Kabupaten Batang. Para pekerja berangkat sebelum Lebaran lalu atau tepatnya April 2022.

"Kami berangkat sejak April lalu, bahkan Lebaran juga di sini (Halmahera Tengah). Kami berangkat atas ajakan Panjul dari Batang," ungkapnya.

Para pekerja tersebut bekerja sebagai kuli bangunan dalam proyek pembangunan kantor perusahaan nikel. Upah yang dijanjikan, sebesar Rp 170.000 per hari, dan dibayarkan setiap dua minggu sekali.

Baca Juga: Permintaan Kambing Naik, Harga Kambing Ditawarkan Hingga Rp 8 Juta per Ekor

Namun sejak bekerja, dia dan pekerja lain hanya menerima bayaran dua kali. Yaitu, pada dua minggu pertama dan kedua. Setelah itu, dia sudah tidak menerima bayaran sama sekali sesuai kesepakatan.

Halaman:

Editor: Siwi Nurbiajanti

Tags

Terkini

Kendaraan Pemudik Terjebak Macet di Tonjong

Jumat, 29 April 2022 | 13:24 WIB
X