Bumikan Moderasi Beragama, Tim Pemberdayaan UIN Gus Dur Gelar Religious Moderation Camp

- Jumat, 23 Desember 2022 | 16:05 WIB
FOTO BERSAMA : Para peserta Religious Moderation Camp yang digelar Tim Pemberdayaan dan KKN Tematik UIN Gus Dur Pekalongan di Desa Linggoasri Kajen, berfoto bersama usai kegiatan. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)
FOTO BERSAMA : Para peserta Religious Moderation Camp yang digelar Tim Pemberdayaan dan KKN Tematik UIN Gus Dur Pekalongan di Desa Linggoasri Kajen, berfoto bersama usai kegiatan. Foto : (suaramerdeka-pantura.com/Kuswandi)

PEKALONGAN, suaramerdeka-pantura.com - Tim pemberdayaan dan KKN Tematik UIN Gus Dur Pekalongan menggelar Religious Moderation Camp di Bumi Perkemahan LInggoasri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Tim Pemberdayaan Desa Moderasi Beragama dan Sadar Kerukunan di Desa LInggoasri. Camp ini merupakan project ke-empat dari beberapa project yang sudah berlangsung sebelumnya.

Pertama, Mapping Religious and Culture, untuk pemetaan potensi budaya dan agama, kedua workshop dan Focus Group Discussion untuk merumuskan kesepakatan bersama lintas agama, ketiga yakni sosialisasi moderasi beragama dan kesepakatan bersama elit strategis LInggoasri, ke-empat Religious Moderation Camp, ke-lima project pembuatan video documenter, dan project ke-enam launching atau pengesahan Desa LInggoasri sebagai desa moderasi beragama dan sadar kerukunan.

Baca Juga: Linggo Asri Jadi Pilot Projek Desa Moderasi Beragama, UIN Gus Dur Gelar Workshop & FGD Bersama Elit Strategis

Kegiatan camp ini berlangsung selama dua hari satu malam yang berisi kegiatan penguatan mental dan pendalaman pemahaman moderasi beragama. Hadir Imam Nuryanto (Kades LInggoasri), Siswanto Thoyib (Ketua BPD LInggoasri), Taswono (Sekdes LInggoasri) sekaligus tokoh dari Agama Hindu setempat, Syamsul Bakhri M.Sos dan Dr. Muhamad Rifa’I Subhi (Ketua dan Wakil Ketua TIM Pemberdayaan Moderasi Beragama).

Peserta pada kegiatan ini terdiri dari siswa-siswi SMA/SMK sederajat dengan latar belakang agama yang berbeda beda. Di mana para peserta terdiri dari agama Islam, Hindu, Kristen, Katolik, dan Buddha yang berasal dari SMA Santo Bernardus, SMAN 1 Kajen, SMKN 3 Pekalongan, SMAN 1 Kesesi, SMAN 1 Doro, SMAN 1 Paninggaran, MAN 1 Pekalongan, SMK Ma’arif NU Kajen, SMK Ma’arif NU Doro dan SMK Muhammadiyah Kajen.

Acara camp ini juga di hadiri oleh narasumber dari lima agama. Para narasumber menyampaikan pandangan keagamaanya berkaitan dengan moderasi beragama sehingga semua peserta mendapatkan materi tentang moderasi beragama dari berbagai sudut pandang. Selain itu mereka juga mendapatkan materi kepemimpinan yang disampaikan langsung oleh Imam Nuryanto (Kades LInggoasri).

Dirinya menyampaikan materi mengenai cara memimpin sebuah desa yang sangat majemuk namun tetap rukun dan jauh dari konflik keagamaan, sebagai bekal siswa-siswi kelak ketika menjadi pemimpin karena bangsa kita adalah bangsa yang majemuk dan beraneka ragam.

Jajaran tokoh dari tiap agama juga menyampaikan pandangan moderasi beragamanya. Kiai Mustajirin Toyib (Wakil Ketua MWC NU Kajen), menjelaskan terkait moderasi beragama dalam perspektif islam. Menurutnya, makna “lakum diinukum waliyadiin” yang mana hal ini menjadi dasar umat Islam untuk bersikap moderat. Sementara, Ny Kusnaeni, S.Pd (perwakilan Agama Hindu) menjelaskan mengenai praktik moderasi beragama yang terlaksana di Desa LInggoasri dan cara menghormati umat beragama dalam kehidupan sosial.

Kemudian Bonifasius Denny Yuswantoro, S.Pd menyampaikan mengenai moderasi Beragama perspektif Katolik. Menurutnya, moderasi beragama dalam bingkai PAK kehidupan, Pendeta David Sutarto Wiryawan, M.Th menyampaikan terkait moderasi Beragama perspektif Kristen protestan.

Menurutnya, bahwa kalau manusia mempunyai keyakinan dengan apa yang ia percayai, maka utamakanlah Firman Tuhan (Sabda Allah) sebagai dasar, pandangan hidup, gaya hidup, dan watak manusia. Nilai-nilai iman Kristen, sepatutnya hidupi dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Manggala Wiraya Tantra M.Pd (Kepala Program Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia, sekaligus Ketua Jurusan Dharmaduta di STABN Raden Wijaya Wonogiri) menyampaikan mengenai empat sifat luhur dasar toleransi Buddhisme (Brahma Vihara) yakni Metta atau cinta kasih, Karuna atau kasih sayang, Mudita atau Sima-pati, dan Upekkha atau batin seimbang.

Sebelum acara ditutup, dimeriahkan dengan outbound bersama Tim Pemberdayaan UIN Gusdur dan pemuda desa LInggoasri sebagai panitia. Adapun reward dari rangkaian kegiatan ini terdiri dari reward essay terbaik yang diberikan kepada Vivilian Jesslyn Joyo (SMA Santo Bernardus). Reward lainnya yakni Putra dan Putri Moderasi Beragama yang diberikan kepada Vivian Jesslyn Joyo dan Moch. Tegar Adi Prasetyo yang merupakan siswa dari SMK 3 Pekalongan.

Kerjasama antara Tim Pemberdayaan bersama seluruh tokoh di desa LInggoasri merupakan aksi pemberdayaan dan upaya peningkatan SDM masyarakat sehingga kedepannya, diharapkan mampu membekali masyarakat guna mengembangkan dan membumikan moderasi beragama.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentengi diri dari ancaman paham radikalisme di kalangan pelajar. Peserta camp moderasi ini akan menjadi duta moderasi beragama di masing-masing sekolah dan lingkungannya masing-masing. Kesadaran diri menjadi manusia yang moderat tidak serta merta muncul dari dalam diri, namun perlu penguatan dan proses sejak dini supaya mampu membentuk karakter pelajar yang moderat dan tetap berpegang teguh pada keyakinan masing masing.

Editor: Yanuar Oky Budi Saputra

Tags

Terkini

Gubernur Lantik Urip Sihabudin Jadi Pj Bupati Brebes

Selasa, 13 Desember 2022 | 18:08 WIB

Tari Geyol Tegal Meriahkan Peringatan Sumpah Pemuda

Jumat, 28 Oktober 2022 | 18:09 WIB

Di Brebes Hanya Ada 8 Parpol Diverifikasi Vaktual KPU

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 17:40 WIB

Sebentar Lagi Air Bersih Banyumas Mengalir ke Pulosari

Selasa, 11 Oktober 2022 | 15:56 WIB
X