Baritan Nelayan Asemdoyong Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

- Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:02 WIB
Nelayan Asemdoyong melarung sesaji saat acara Baritan .www.suaramerdeka.com (Dokumen Diskominfo Pemalang)
Nelayan Asemdoyong melarung sesaji saat acara Baritan .www.suaramerdeka.com (Dokumen Diskominfo Pemalang)


PEMALANG, suaramerdeka-pantura.com - Baritan Asemdoyong yaitu sebuah tradisi nelayan Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek. Baritan yang tidak lain adalah acara sedekah laut telah melalui serangkaian tahapan untuk bisa menjadi WTTB 2022.

Sidang penetapan WBTB diadakan secara hybrid dipimpin Direktur Pelindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti. Adapun pesertanya Ketua Tim Ahli WBTB Basuki Teguh Yuwono, Koordinator Kelompok Kerja Penetapan M Natsir Ridwan, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya dan Kepala Dinas Provinsi, Kabupaten/Kota yang membidangi kebudayaan.

Baritan merupakan tradisi turun temurun yang diadakan setahun sekali, tepatnya pada bulan Muharam/Suro (penanggalan Jawa). Esensi dari seremoni ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diperoleh warga Asemdoyong. Sebagian warga Asemdoyong bermata pencaharian sebagai nelayan.

“Baritan merupakan kegiatan yang dilakukan seluruh nelayan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa,”kata Kepala Desa Asemdoyong, Yusuf Mujadi kepada tim pengisi formulir Penetapan WBTB dari Dindikbud Kabupaten Pemalang.

Salah satu bentuk aktifitas yang ada dalam upacara Baritan
yaitu pelarungan sesaji. Pelarungan sesaji yaitu prosesi melarung sesaji yang telah tertata rapi di dalam ancak/jolen
(miniatur kapal) berhias ke tengah laut. Prosesi pelarungan ke tengah laut berlangsung sekitar tiga jam.

Pelarungan sesaji memiliki dua acara inti yaitu masrahaken
sesaji dan manganan. Masrahaken sesaji (penyerahan sesaji) diikuti oleh panitia pelarungan sesaji dan para pengunjung. Lokasinya di tengah laut Desa Asemdoyong yang dikenal dengan nama Karang Subala Subali. Sesaji yang dilarung ada tiga jenis yaitu, ancak gemplo, cantrang, dan garok.

Manganan dilakukan setelah selesai masrahaken sesaji. Ini berlangsung meriah dan sangat ramai, pengunjung saling berebut makanan. Masyarakat percaya apabila memakan makanan yang ada dalam pelarungan sesaji, maka apa yang diinginkan bisa tercapai dan mendapatkan rizki yang berlimpah.

Editor: Nur Khoerudin

Sumber: Diskominfo Pemalang

Tags

Terkini

Gubernur Lantik Urip Sihabudin Jadi Pj Bupati Brebes

Selasa, 13 Desember 2022 | 18:08 WIB

Tari Geyol Tegal Meriahkan Peringatan Sumpah Pemuda

Jumat, 28 Oktober 2022 | 18:09 WIB

Di Brebes Hanya Ada 8 Parpol Diverifikasi Vaktual KPU

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 17:40 WIB

Sebentar Lagi Air Bersih Banyumas Mengalir ke Pulosari

Selasa, 11 Oktober 2022 | 15:56 WIB

Moeldoko Panen Raya Jagung di Pemalang

Jumat, 23 September 2022 | 20:16 WIB

32 Unit Ruspin Untuk Korban Banjir Mulai Dibangun

Rabu, 14 September 2022 | 21:34 WIB
X